Find and Follow Us

Senin, 19 Agustus 2019 | 07:24 WIB

BWF Puji Konsep Sportainment Indonesia Open 2019

Oleh : Arif Budiwinarto | Senin, 22 Juli 2019 | 18:43 WIB
BWF Puji Konsep Sportainment Indonesia Open 2019
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Turnamen bulutangkis BLIBLI Indonesia Open 2019 kembali mendapat apresiasi dari Federasi Bulutangkis Dunia (BWF). Penyelenggaraan turnamen level super 1000 ini dinilai sukses, bukan hanya memberikan kenyamanan dan berbagai fasilitas kepada para pemain tetapi juga kepada penonton.

Indonesia Open 2019 berlangsung dari tanggal 16-21 Juli di Istora, Senayan, Jakarta. Sebagai salah satu dari tiga turnamen level 1000, Indonesia Open 2019 sukses menarik atensi para pecinta bulutangkis tanah air.

Berlangsung selama lima hari, Indonesia Open 2019 bukan cuma menawarkan tontonan olahraga bulutangkis berkualitas dengan pebulutangkis elit dunia yang berlaga, masyarakat baik yang menonton atau sekadar berkunjung bisa menikmati aneka fasilitas hiburan yang tersedia di area Istora Senayan.

Di Hall of Fame yang berada di booth PB Djarum, pengunjung bisa melihat langsung deretan foto-foto pebulutangkis legendaris Indonesia, serta replika Piala Thomas, Piala Uber serta Piala Sudirman. Di masa jayanya, Indonesia pernah meraih 13 Piala Thomas, terakhir kali pada 2002 di Guangzhou, China, serta tiga Piala Uber yang terakhir kali diraih pada 1996. Sedangkan Piala Sudirman terakhir kali mampir di bumi pertiwi pada 1989.

"Tentu sangat menbantu sekali, jujur saya belum terlalu lama menyelami badminton, dengan adanya Hall of Fame ini sangat menbantu saya menambah pengetahuan bulutangkis saya," ujar Jejen pemuda asal Ciamis yang ditemui INILAHCOM, Kamis (18/7/2019) pagi WIB.

Tak sedikit juga yang sengaja datang ke Istora Senayan cuma ingin merasakan euforia turnamen berhadiah total lebih dari 1.250.00 juta dolar AS (Rp. 17,4 miliar). Meskipun tak ikut menyaksikan pertandingan di dalam arena, mereka tetap bisa meng-explore tiap sudut Istora Senayan yang didesain sebagai spot berswafoto dan mengunggahnya ke media sosial.

"Dateng kesini sih diajak teman, mumpung akhir pekan juga. Katanya ada tempat selfie yang instagrammable gitu, jadi sekalian aja foto-foto," kata Denia asal Tangerang.

"Kita gak nonton, karena gak dapet tiket juga. Yaudah, mumpung di sini, ikut seru-seruan aja, lagian banyak tempat bagus buat foto," tambah Any yang datang bersama Denia.

Panitia juga menyediakan lokasi bersantai dengan deretan kursi dan meja minimalis serta jejeran booth makanan dan minuman yang bisa mendukung hang-out para pengunjung. Bagi pengunjung yang membawa balita, panitia juga menyediakan area khusus bermain anak di sisi utara gedung Istora.

Malam harinya, pengunjung bisa menyaksikan live music di panggung utama yang berada di sisi utara. Sebelum laga final Indonesia Open, Minggu (21/7/2019), pengunjung dihibur oleh grup band terkenal Indonesia, Kahitna.

"Keren sih, jadi bukan cuma ngadain pertandingan bulu tangkis, tapi juga ada hiburannya. Gak sia-sia deh dateng ke sini," kata Ardi asal Depok.

Head of Event Project BWF, Koh Wa Cheng, mengapresiasi terobosan panitia pelaksana Indonesia Open 2019 yang menggabungkan aspek olahraga dan hiburan (sportainment) dalam satu event.

"Indonesia Open merupakan turnamen yang bagus, banyak sekali peningkatan. Saya ada di turnamen ini sejak tahun 2011 dan saya sangat menikmati berada di sini. Indonesia adalah tuan rumah yang baik, fans bulutangkisnya luar biasa. Event ini sangat bagus untuk mempromosikan bulutangkis ke masyarakat," kata Koh Wa Cheng dalam rilis yang diterima INILAHCOM, Senin (22/7/2019).

Perangkat Pertandingan Pakai Busana Daerah Indonesia

Ada yang berbeda pada penampilan perangkat pertandingan Indonesia Open 2019 pada babak semifinal dan final. Sebenarnya umpire memakai batik di Indonesia Open bukan hal baru. Hal ini sudah dilakukan sekitar tiga atau empat tahun lalu.

Awalnya ide ini sempat mendapat tentangan dari Federasi Bulutangkis Dunia (BWF). Tapi, pada akhirnya mereka memperbolehkan wasit memakai batik, yang merupakan pakaian khas Indonesia.

"Ini sudah diterapkan tiga atau empat tahun lalu. Mengapa? Karena kami perlu inovasi. Lagi pula ini bukan pertama kali juga, sebelumnya pernah pakai udeng," ujar Kasubid Hubungan Internasional PBSI, Bambang Roedyanto, di Istora Senayan, Sabtu (20/9/2019).

Langkah tersebut mendapat pujian dari BWF. Menurutnya Koh Ca Weng, Indonesia Open 2019 lebih dari event olahraga, tetapi juga saluran memperkenalkan aspek lain dari Indonesia yang kaya akan budaya dan tradisi.

"Saya melihat di sini bulutangkis sangat mudah diakses berbagai kalangan, penyelenggara juga menyajikan turnamen ini begitu bagus. Indonesia juga bisa menunjukkan budayanya kepada dunia, seragam yang dipakai wasit menambah identitas Indonesia di turnamen ini," kata Koh.

Sementara itu, Achmad Budiharto, sebagai Ketua Panitia Pelaksana Indonesia Open 2019 bersyukur atas kesuksesan event ini. Walaupun dari segi prestasi, dibandingkan tahun lalu, Indonesia mengalami penurunan, dari dua gelar menjadi satu gelar.

"Kita patut bersyukur event ini bisa berjalan dengan baik, bisa kita lihat antusiasme penonton, mereka sangat menikmati situasi di Indonesia Open. Secara prestasi harus diakui sedikit lebih rendah dari tahun lalu, mudah-mudahan tahun depan akan lebih baik," ujar Budiharto.

Indonesia berhasil meraih satu gelar ganda putra lewat laga all Indonesian final yang dimenangkan oleh Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon atas Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan 21-19, 21-16.

Komentar

Embed Widget
x