Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 Desember 2018 | 22:17 WIB

Asian Para Games, Pelajaran Berharga di Dalamnya

Oleh : Arif Budiwinarto | Rabu, 10 Oktober 2018 | 06:14 WIB

Berita Terkait

Asian Para Games, Pelajaran Berharga di Dalamnya
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Transportasi dan kru pendukung jadi salah satu faktor penting melancarkan pertandingan. Jadi bagian Asian Para Gamws 2018, mereka yang bertugas di dua posisi tersebut mendapat banyak pelajaran berharga.

Transportasi penting keberadaannya untuk mengantar atlet dan ofisial dari kampung atlet di Kemayoran ke venue pertandingan yang tersebar di wilayah DKI Jakarta maupun sebaliknya.

Untuk Asian Para Games 2018 kali ini, INAPGOC menyediakan dua model shuttle bus yang disesuaikan dengan kebutuhan atlet penyandang disabilitas.

Hari Imam, seorang supir shuttel bus, mengatakan dalam memfasilitasi atlet disabel ia harus menyesuaikan ketinggian lantai bus agar tidak menyulitkan si atlet masuk. Selain itu, ada juga batas kecepatan yang harus diperhatikan saat melaju.

"SOP-nya sama seperti Asian Games kemarin, bedanya ini harus lebih berhati-hati lagi, kalau batas kecepatan 50 Km," jelasnya saat ditemui di area parkir Stadion Akuatik, Senayan, Selasa (9/10/2018) malam WIB.

"Kalau ketinggian bus ini bisa diatur, Kan ada dua merek bus yang satu bisa diatur tingginya, jadi pas atlet masuk diturunin, pas jalan ya biasa lagi (tingginya)," ia menambahkan.

Imam mengaku senang bisa jadi bagian event olahraga disabilitas terbesar di Asia ini. Selama bertugas, ia mendapat banyak pelajaran terutama untuk lebih mensyukuri pemberian dari Tuhan.

"Saya bersyukur masih dikasih badan yang lengkap. Senang juga bisa membantu para atlet, bangga jadi tuan rumah," tandasnya.

Harus Peka dengan Kebutuhan Atlet Disabilitas

Rubi Anjasmoro punya cerita berbeda. Bertugas sebagai kru pembantu atlet disabilitas, ia dituntut lebih peka terhadap kebutuhan para atlet penyandang disabilitas.

"Saat atlet minta bantuan, paling tinggal bahasanya aja kan. Kita awalnya menanyakan 'boleh kita bantu? atau apa yang perlu kita bantu?' kalau dia bilang tidak, yasudah tidak kita bantu, kita cukup dampingi saja," jelasnya.

"Biasanya kalau dia nengok ke belakang aja berarti dia minta bantuan. Entah itu dia gak bisa ngomong atau gak bisa bahasa Inggris," ia menambahkan.

Menjadi orang yang hampir setiap hari bersentuhan langsung dengan atlet penyandang disabiltas, Rubi mengaku tak pernah mendapatkan pelatihan mengenai cara memberikan asistensi kepada mereka. Ia bertindak sesuai dengan hati nuraninya.

"Gak ada. Karena membantu disabilitas gak harus dilatih menurut saya," lanjutnya.

Melihat perjuangan keras para atlet disabilitas melawan keterbatasan di arena pertandingan, Rubi mendapat pelajaran berharga bagaimana mensyukuri kesempurnaan tubuh yang dimilikinya.

"Terharu sih, bukan pas dia dateng turun (dari bus) tapi pas dia lomba. Ya, dia berenang tapi gak punya kali kan tapi perjuangannya itu lho, kayak kemarin Jepang yang bisa rekor, kita aja yang normal aja kan belom tentu. Ya tunanetra juga bingung cuma pegangan tali doang," ia menutup.

Komentar

Embed Widget
x