Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 19 Juni 2018 | 06:06 WIB
 

Soal Aturan Baru BWF, PBSI Akan Kirim Surat ke BAC

Oleh : Reza Adi Surya | Minggu, 25 Februari 2018 | 17:11 WIB
Soal Aturan Baru BWF, PBSI Akan Kirim Surat ke BAC
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti - (Foto: badmintonindonesia)

INILAHCOM, Jakarta - PBSI akan mengirimkan surat ke Konfederasi Bulutangkis Asia (BAC) terkait aturan baru yang diterapkan Federasi Bulutangkis Dunia (BWF). Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti.

Aturan baru BWF yang pertama mengenai keharusan pemain elit bertanding di minimal 12 turnamen dalam setahun. Kedua, perubahan batas tinggi servis, dari tinggi rusuk terbawah tiap pemain, menjadi satu standard 115 cm dari permukaan lapangan.

Aturan ketiga adalah kemungkinan perubahan sistem skor pertandingan dari reli poin 21 menjadi skor 11 poin dikali lima game. Dalam sistem skor ini, game didapat pemain di poin 11. Setting terjadi pada kedudukan 10-10 dan maksimal game di angka 15.

Sebagai langkah nyata, Susy menuturkan, PBSI akan mengirim surat serta berdiskusi dengan pihak-pihak terkait, diawali dengan BAC.

"Akan ada pertemuan dengan BAC bulan depan, kami akan diskusikan dengan negara lain, karena beberapa negara memang keberatan juga, bukan cuma Indonesia. Peran Indonesia juga harus lebih aktif, karena banyak aturan yang sifatnya mendadak dan tidak ada pihak yang bisa menjelaskan secara detail, apa tujuan aturan baru ini?" ujar Susy, dikutip dari Badmintonindonesia.org.

"Mungkin saja akan ada pemungutan suara, saya harus cek lagi dengan tim hubungan internasional soal ini. Indonesia adalah salah satu negara yang dipandang di bulutangkis, seperti China, Korea, Denmark, Malaysia yang punya suara cukup kuat untuk memberikan masukan," katanya.

Susy juga akan meminta penjelasan lebih mendalam soal aturan batasan servis yang akan mulai dicoba di All England 2018 BWF World Tour Super 1000. Beberapa ketentuan servis dinilai Susy masih memiliki kekurangan yang dapat merugikan pemain, sehingga ia akan mempertanyakan hal ini dalam manager meeting All England nanti. Selain itu, waktu penerapan aturan juga dinilai terlalu mendadak bagi pemain untuk beradaptasi.

"Waktunya sempit (untuk adaptasi). Ini mengubah kebiasaan selama puluhan tahun, jadi tiap atlet harus mengukur lagi, dan ada yang dirugikan ada yang diuntungkan. Kalau yang kurang tinggi diuntungkan, yang tinggi agak sedikit dirugikan. Plus minus untuk semua. Tetapi namanya aturan, kami mencoba untuk menanggapi positif dan menyesuaikan diri," lanjut Susy.

"Kami melihat beberapa kelemahan dari aturan ini diantaranya berapa jarak pasti antara hakim servis dengan alat pengukur, karena ini memengaruhi sudut pandang, memengaruhi servis atlet fault atau tidak," ungkapnya.

"Kalau hakim servis matanya minus atau plus juga memengaruhi, tentunya kami tidak mau atlet kami dirugikan. Berapa ukuran standardnya, alatnya kan bisa dipindah-pindah, dari simulasi hari ini bisa terlihat semua," tandasnya.

Tags

Komentar

 
Embed Widget

x