Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 19 Juni 2018 | 06:06 WIB
 

PBSI Keberatan Tiga Aturan Baru BWF

Oleh : Reza Adi Surya | Minggu, 25 Februari 2018 | 16:50 WIB
PBSI Keberatan Tiga Aturan Baru BWF
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti - (Foto: badmintonindonesia)

INILAHCOM, Jakarta - Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti menilai tiga aturan baru dari Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) memberatkan pemain.

Aturan pertama mengenai keharusan pemain elit bertanding di minimal 12 turnamen dalam setahun. Kedua, perubahan batas tinggi servis, dari tinggi rusuk terbawah tiap pemain, menjadi satu standard 115 cm dari permukaan lapangan.

Aturan ketiga adalah kemungkinan perubahan sistem skor pertandingan dari reli poin 21 menjadi skor 11 poin dikali lima game. Dalam sistem skor ini, game didapat pemain di poin 11. Setting terjadi pada kedudukan 10-10 dan maksimal game di angka 15.

Jadi, kalau terjadi angka imbang 14-14, maka kedudukan akhir adalah 15-14 untuk si pemenang. Perpindahan sisi lapangan terjadi di game kelima saat kedudukan angka 6. Sesi coaching oleh pelatih diberikan maksimal dua kali dalam lima game tersebut.

Meskipun belum diputuskan secara resmi, skor 11x5 kemungkinan disiapkan untuk Olimpiade Tokyo 2020 mendatang. Dua tahun jelang Olimpiade dinilai Susy tak akan cukup bagi pemain dalam menyesuaikan diri dengan sistem skor baru.

"Penerapan skor 11 untuk persiapan Olimpiade 2020, waduh terlalu mepet. Perubahan skor akan mempengaruhi permainan, pola main, program latihan dan sebagainya. Perubahan skor 15 ke 21 saja empat sampai lima tahun penyesuaiannya," ungkap Susy, dikutip dari Badmintonindonesia.org.

"Sekarang saat orang sudah menikmati permainan bulutangkis poin 21, diubah lagi aturannya. Kami ingin tahu sebetulnya bulutangkis mau dibawa kemana? Badminton sudah populer, kenapa tidak dipertahankan dulu, kalau ada yang kurang, ditambah tapi tidak secara drastis," tambahnya.

Susy juga menuturkan bahwa sistem skor 11x5 akan memperpendek durasi permainan, sehingga tak bisa menikmati seni dan keindahan permainan bulutangkis seperti yang ada di sistem skor sebelumnya.

"Main dengan sistem skor 11x5 ini, satu poin kalau out, satu poin kalau fault, jadinya nggak ada permainan, mungkin dalam lima menit sudah selesai. Waktu perubahan sistem skor pindah bola ke reli poin, awalnya dibilang cepat, sekarang dibilang terlalu lama, mau dipotong lagi, mau dibikin seperti apa? Mungkin yang bikin aturan enak, tapi yang menjalankannya butuh latihan seperti apa, polanya beda semua," lanjut peraih medali emas Olimpiade 1992.

"Sistem skor yang baru ini saya nggak tahu bakal bagaimana, kesannya kayak diburu-buru. Pemain benar-benar nggak boleh bikin kesalahan sendiri, yang lambat panasnya tidak akan bisa, yang akurasi teknik pukulannya tidak bagus juga tidak bisa, pemain yang belum matang pun nggak bisa," tandasnya.

Tags

Komentar

 
Embed Widget

x