Find and Follow Us

Sabtu, 25 Januari 2020 | 06:48 WIB

Tiga Karateka Indonesia Terhenti di Babak Awal

Sabtu, 24 November 2012 | 00:33 WIB
Tiga Karateka Indonesia Terhenti di Babak Awal
facebook twitter

INILAH.COM, Paris - Tiga karateka kumite Indonesia, Nurhadiyanti Fitrianingsih, Jintar Simanjuntak dan Donny Dharmawan, belum bisa tampil maksimal pada Kejuaraan Dunia Karate Senior 2012 di Omnisport de Paris Bercy, Paris, Prancis. Mereka sudah gugur sejak babak awal.

Nurhadiyanti yang mendapatkan bye pada babak pertama, menyerah di tangan karateka Bosnia Herzegovina Lana Dzidic 1-2 pada babak kedua. Dia tak bisa berbuat banyak meladeni kecepatan dan agresivitas lawannya yang pada babak pertama menundukkan karateka Norwegia Bettina Alstadsaether.

"Saya kalah 1-2 dari Dzidic. Dia memiliki kecepatan yang cukup bagus. Tapi, saya sudah berusaha keras meladeni permainannya," aku karateka yang akrab disapa Fitri.

Meski dalam laga itu, Fitri sudah tampil agresif. Namun, Dzidic terlalu cepat untuk bisa dikalahkannya. Terbukti, setelah tertinggal satu poin, karateka Bosnia tersebut mampu membalikkan keadaan.

Sementara Jintar, sebetulnya sudah menunjukkan kualitas bagus pada pertandingan kumite kelas -67 kg tersebut. Bahkan, pada babak pertama dia unggul 2-0 atas karateka Denmark C Olsen.

Sayangnya, Jintar gagal mempertahankan performa. Pada babak kedua, dia tak bisa berbuat banyak di hadapan karateka Republik Ceko Filip Smajcl. Dia kalah 1-6 dari karateka asal Republic Ceko tersebut, sehingga akhirnya harus angkat kaki lebih awal dari kejuaraan tersebut.

Kondisi sama menimpa Donny Dharmawan. Karateka kelas -60 kg tersebut juga hanya sampai babak kedua setelah mendapat bye pada babak pertama. Peraih medali perunggu Kejuaraan Dunia 2006 Finlandia tersebut kalah 1-6 Aykut Kaya dari karateka Turki.

"Donny seperti kehilangan sentuhannya. Pergerakan kakinya kurang gesit. Itu yang membuatnya dihabisi lawan," ujar Manajer Tim, Djafar E. Djantang.

Di luar itu, kondisi lawan sangat bagus. Selain memiliki teknik yang tinggi, Kaya juga pandai memancing Donny masuk dalam ruang serangannya.
Tapi, apa pun, kondisi Donny saat ini sangat berbeda dengan waktu merebut medali perunggu 2006.

Saat itu, Donny menjalani latihan intensif di Eropa sebelum tampil di kejuaraan dunia tersebut. Sementara menghadapi kejuaraan dunia kali ini, dia baru satu setengah bulan bergabung ke pelatnas sejak menjadi juara di PON 2012 Pekanbaru. Wajar jika penampilannya belum begitu prima meski pada PON 2012 meraih medali emas.

"Faktor waktu pelatnas, tentu memengaruhi penampilan Donny. Ibarat kata, tiga bulan berlatih hanya untuk belajar menangkis, baru setelah itu belajar memukul. Nah, kondisi Donny juga begitu. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran berharga bagi Donny dalam menghadapi ajang-ajang internasional berikutnya," kata Wakil Manajer, Zulkarnaen Purba.

Tapi, Zulkarnen menyebut bahwa kejuaraan ini akan sangat berguna bagi para karatekanya. Selain mangasah kemampuan teknik dan strategi, juga untuk menguji kualitas mental. Sebab, event ini memang diikuti para karateka terbaik dunia. Terbukti, karateka Indonesia yang tampil sebelumnya, Christo Mondolu kalah di tangan juara dunia asal Azerbaijan Raphael Aghayev.

Komentar

x