Find and Follow Us

Minggu, 19 Januari 2020 | 15:00 WIB

Kenang Korban Sukhoi, Alumni ITB Ikut Lari 10K

Oleh : Irvan Ali Fauzi | Minggu, 20 Mei 2012 | 18:08 WIB
Kenang Korban Sukhoi, Alumni ITB Ikut Lari 10K
IST
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Sekitar 60 orang alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ikut memerihakan lomba lari 10 kilometer dalam ajang Jakarta Interntional 10K, Minggu (20/5/2012).

Aksi mereka itu didedikasikan untuk mengenang Kornel Sihombing yang menjadi salah satu korban jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak beberapa waktu lalu.

Kornel Sihombing merupakan Alumni ITB yg memiliki komitmen besar untuk kedirgantaraan Indonesia. Almarhum yang akrab disapa Onye oleh teman-temannya itu meninggal dalam kecelkaan nahas itu, karena ikut terbang mewakili PT Dirgantara Indonesia sebagai Kepala Divisi Integrasi Bisnis pada Direktorat Aerostructure.

Menurut beberapa rekannya yang ikut berlari, Onye dikenal sebagai pria yang teguh pendirian. Ketika IPTN yg kemudian berubah menjadi PT Dirgantara Indonesia, mengalami krisis, Onye bertahan di PT Dirgantara Indonesia (PTDI) ketika tidak sedikit koleganya yang memutuskan keluar dari PTDI dan bekerja di perusahaan lain, termasuk industri dirgantara milik negara lain. Tawaran posisi dari produsen pesawat terbang kelas dunia ditampiknya dengan tegas karena Onye memilih untuk setia mengusung Merah-Putih dan Garuda Pancasila dalam segenap karya-baktinya.

"Tidak banyak orang yang tahu bahwa Onye yang mengemban posisi bergengsi sebagai Kepala Divisi Integrasi Bisnis pada Direktorat Aerostructure PTDI adalah seorang yang ulet mempertahankan hidup PTDI melalui negosiasi-negosiasi bisnis dengan berbagai industri dirgantara kelas dunia agar PTDI dapat sintas (survive). Tidaklah mengherankan jika beberapa kalangan menjulukinya sebagai negosiator ulung. Dan, tampaknya, tidak berlebihan pula jika ada orang yang mengatakan bahwa Onye adalah penyelamat PTDI dan industri dirgantara Indonesia pada umumnya," ujar Sahat, alumni ITB angkatan 1983, salah seorang teman almarhum saat.

Berkat peranan Onye, dikatakannya, PTDI berhasil menjalin kontrak antara lain dengan Airbus untuk memproduksi inboard outboard fixed leading edge; dengan Eurocopter untuk memproduksi fuslage dan tail boom; dan juga kontrak dengan EADS Casa (Spanyol), Bombardier (Jepang), Korean Air Line (Korea Selatan), CTRM (Malaysia), dan SMEA (Malaysia).

Visi kepemimpinannya sudah bisa dilihat ketika bergabung secara permanen di IPTN pada tahun 1992, karena ia sendiri mengatakan. "Setelah selesai kuliah saya ingin bekerja di PTDI karena selain ilmu saya terpakai, visipun terakomodasi walaupun saya tahu gaji di sana kecil." ujar Sahat menirukan perkataan almarhum sahabatnya.

Kesederhanaan serta spirit Onye ketika bergabung di industri penerbangan itu, membuatnya berhasil menduduki posisi kepala biro, satu tahun setelah ia bekerja di sana..[iaf]

Komentar

x