Kamis, 17 Mei 2012 | 04:26 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Catatan Akhir 2011 Olimpik Indonesia
Juara SEA Games, Regenerasi Bulutangkis Mendesak
Headline
inilah.com
Oleh: Reza Adi Surya
Olahraga - Kamis, 29 Desember 2011 | 20:15 WIB

INILAH.COM -Tahun 2011, masyarakat bisa tersenyum berkat prestasi olimpik Indonesia di SEA Games. Namun catatan kurang memuaskan ditorehkan cabang olahraga kebanggaan, bulutangkis.

Gelar juara umum kembali direbut Indonesia sejak 1997 berkat raihan total 182 emas, 151 perak dan 143 perunggu. Perolehan ini jauh meninggalkan peringkat kedua, Thailand, yang hanya mampu mengumpulkan 109 emas.

Perjuangan Indonesia untuk menjadi juara umum SEA Games dilalui dengan jalan yang terjal. Indonesia memilih dua kota, Jakarta dan Palembang sebagai tempat penyelenggara ajang pesta olahraga se-Asia Tenggara itu. Hal paling krusial adalah masalah lambatnya pengerjaan venue di Palembang. Hingga tujuh hari jelang upacara pembukaan, masih banyak venue yang belum rampung. Dengan kerja keras dan bantuan dari semua pihak, akhirnya venue pertandingan selesai tepat pada waktunya.

SEA Games diresmikan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dimulai dengan upacara pembukaan di Palembang. Upacara pembukaan itu disebut sebagai upacara pembukaan termegah dan paling spektakuler dalam sejarah penyelenggaraan SEA Games.

Perjuangan Indonesia di SEA Games pun dimulai. Emas langsung direbut di hari pertama dari cabang Kano. Eka Octarianus menjadi yang tercepat di nomor Kano 1 Putra 1000 meter.

Selanjutnya, keran medali emas Indonesia terus mengalir. Cabang olahraga yang menarik perhatian di SEA Games kali ini adalah Karate. Cabang olahraga tersebut berhasil melampaui target medali yang dibebankan. Total 10 medali emas berhasil direbut, atau lebih banyak tiga medali dari target KONI. Flenty Enoch, Faizal Zainuddin dan Umar Syarief berhasil menjadi pahlawan Indonesia di cabang Karate.

Di cabang olahraga yang menjadi andalan Indonesia, Bulutangkis, berhasil menghasilkan lima medali emas. Satu medali emas di beregu putra dan empat medali lainnya diraih di nomor perorangan, yakni Tunggal Putra (Simon Santoso), Ganda Putra (M.Ahsan/Bona Septano), Ganda Putri (Feinya/Krishinda), Ganda Campuran (Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir).

Cabang yang paling banyak menyumbang medali emas adalah Atletik. Pelari andalan Indonesia, Triyaningsih berhasil meraih tiga medali emas.

Sayang, keberhasilan Indonesia menjadi juara umum SEA Games tidak diikuti dengan keberhasilan timnas sepakbola meraih medali emas. Mereka hanya mampu meraih medali perak usai dikalahkan oleh Malaysia di babak final setelah melalui drama adu penalti.

Tim asuhan Rahmad Darmawan ini sempat menebar asa ketika tampil trengginas di babak penyisihan. Tergabung di Grup A, Indonesia harus berada satu grup dengan negara-negara kuat, seperti Thailand, Singapura dan Malaysia. Hanya Kamboja yang dianggap tim terlemah di Grup A.

Sayang, di final, Indonesia kalah dari Malaysia. Laga berakhir 1-1 dan harus dilanjutkan dengan adu penalti. Dewi Fortuna berada di pihak Malaysia dan mereka berhak meraih medali emas SEA Games XXVI. Tahun 2009, Malaysia juga berhasil meraih medali emas SEA Games.

Upacara penutupan SEA Games tidak kalah meriah dengan upacara pembukaan. Masih bertempat di Stadion Jakabaring, Palembang, SEA Games XXVI resmi ditutup dan akan kembali digelar dua tahun mendatang di Myanmar.

Sementara itu, regenerasi tak berjalan lancar di cabang bulutangkis. Olahraga yang melambungkan nama Indonesia di tingkat dunia. Prestasi bulutangkis Indonesia di tahun 2011 bisa dibilang mengecewakan. Dari beberapa turnamen besar, Indonesia hanya meraih dua emas.

Sebaliknya, dominasi pebulutangkis Cina sangat terasa. Di semua turnamen, Cina hampir selalu menyapu bersih semua partai yang dipertandingkan. Berkat proses pembinaan memadai, Cina tak pernah kehabisan pemain muda berbakat.

Sebaliknya dengan Indonesia, proses regenerasi tergolong lambat. Indonesia masih memgandalkan Taufik Hidayat di tunggal putra. Juara Olimpiade 2004 itu sudah harus digantikan oleh pemain yang lebih muda. Namun, prosesnya sangat lambat. Sektor tunggal putri menjadi yang paling lemah.

Sejak era Susi Susanti dan Mia Audina, Indonesia tak bisa lagi menciptakan pebulutangkis kelas wahid. Pemain yang ada saat ini tak mampu menembus dominasi Cina. Bahkan, kelas mereka sudah disalip oleh Thailand yang menempatkan wakilnya di peringkat 15 besar dunia, Porntip Buranaprasertsuk.

Dari 12 turnamen Super Series termasuk lima berkategori Premium Super Series, Indonesia hanya berhasil meraih gelar di Singapore Open Super Series dan India Open Super Series melalui Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir di ganda campuran. Sungguh hasil yang mengecewakan bagi dunia bulutangkis Indonesia.

Lebih menyedihkan lagi, di turnamen Indonesia Open Premium Super Series yang digelar di Jakarta, tuan rumah sama sekali tak mampu meraih emas. Di turnamen Kejuaraan Dunia, kembali Indonesia tidak mampu meraih satu gelar pun. Cina berhasil menyapu bersih semua gelar di kejuaraan yang digelar di London tersebut.

Di ajang SEA Games XXVI di Jakarta-Palembang, emas memang dipanen. Namun lawan yang dihadapi masih satu tingkat dibawah pemain senior Indonesia. Hanya Thailand yang menjadi ancaman. Malaysia memilih menurunkan para pemain mudanya. Sementara Indonesia menurunkan pemain senior seperti Taufik Hidayat.

Di tahun 2012, turnamen akan dibuka dengan Korea Open Premium Super Series bulan Januari. Masyarakat Indonesia tentu mengharapkan perbaikan prestasi olahraga bulutangkis yang memang sangat dicintai. Bahkan, bulutangkis tak pernah absen menyumbang medali emas sejak Olimpiade Barcelona 1992.

Susi Susanti dan Alan Budikusuma berhasil meraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992, Rexy Mainaky/Ricky Subagja (1996), Tony Gunawan/Chandra Wijaya (2000), Taufik Hidayat (2004) dan Markis Kido/Hendra Setiawan (2008). Apakah Indonesia bisa mempertahankan tradisi tersebut di Olimpiade 2012 di London? Semoga.[yob]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.