INILAH.COM, Jakarta - Olahraga sering menampilkan dua sisi yang bertolak belakang. Sang juara, secara spontan akan mengekspresikan kegembiraannya dalam berbagai bentuk. Sementara sang pecundang di saat yang sama dilanda kesedihan dan kepahitan.
Inilah kira-kira gambaran yang bisa mendeskripsikan apa yang terjadi antara Adam Scott, si jawara dan Tiger Woods sang pecundang. Gambaran ini terjadi Senin (8/8/2011) baru lalu di Ohio, Amerika Serikat.
Pegolf Australia Adam Scott, memenangi World Golf Championship, sementara bekas pegolf nomor satu dunia dari Amerika Serikat (AS) Tiger Woods hanya menduduki urutan ke-37. Skor yang dicetak keduanya, sangat timpang. Scott bermain 16 di bawah par sementara Woods 1 di atas par. Mereka berselisih 18 angka! Bukan 17!
Bagi Adam Scott, kemenangan itu sangat spesial. Kemenangan ini menumbuhkan sebuah kepercayaan baru. Bagi Woods, kegagalannya semakin memerpanjang petaka yang dialaminya sejak 2009.
Setelah bercerai dengan Elin Nordegren yang telah memberinya dua anak, dan harus memberi 'pesangon' sebesar US$100 juta bagi bekas isteri, Woods tidak pernah lagi memenangi sebuah turnamen.
Kejuaraan dunia yang disponsori oleh Bridgestone itu sendiri tak ubahnya sebagai sebuah turnamen berhadiah jutaan dolar yang di dalamnya, masih ada "turnamen mini" yang mempertandingkan ego dan martabat oleh tiga manusia. Yaitu turnamen mini antara Tiger Woods, Adam Scott dan Steve Williams.
Semua mata tertuju kepada mereka. Sebab antara Tiger Woods dan Steve Williams, bekas caddy-nya, tidak ada lagi komunikasi. Padahal suka atau tidak suka mereka harus bertemu di locker, restaurant atau driving range tempat pemanasan. Sementara Adam Scott juga ‘kikuk’ menyapa Tiger Woods. Berhubung caddy yang baru dipecat bulan lalu oleh Tiger Woods, kini menjadi caddy-nya.
Scott seakan-akan mempekerjakan seorang caddy bermasalah atau yang telah membuat Tiger bercerai dengan isterinya termasuk tak pernah menang selama dua tahun. Jadi bagi Tiger Woods, turnamen ini menjadi ajang pembuktian bahwa pemecatannya atas caddy Steve Williams bulan lalu, benar.
Sedangkan bagi Adam Scott, situasinya juga kurang lebih demikian. Keputusannya menampung caddy yang dipecat Tiger Woods, tidak keliru. Sementara itu buat Steve Williams di kejuaraan itu ia ingin memperlihatkan kepada siapa saja, termasuk Tiger Woods, bahwa ia pantas untuk dihargai sebagai caddy yang telah menghasilkan seorang juara.
Steve merasa sangat terpukul dengan pemecatan dirinya oleh Tiger Woods. Karena selama 13 tahun (1998-2001) menjadi caddy Tiger Woods, 13 gelar major dan 16 gelar titel dunia, berhasil diraih pegolf kulit hitam itu. Peran Steve Williams sangat besar termasuk 72 kemenangan non-major lainnya.
Atas keberhasilannya itu, Tiger Woods kebanjiran uang yang mencapai miliaran dolar Amerika Serikat. Woods menjadi salah satu olahragawan terkaya di dunia. Woods seorang miliarder yang mendapatkan uang dengan sangat mudah.
Miliaran dolar itu rata-rata berasal dari sponsor seperti Nike, Tag Heure, American Express dan Buick. Perusahaan-perusahaan tersebut secara permanen memerpanjang kontrak mereka dengan Tiger Woods. Selain sponsor, dalam satu tahun atau 52 minggu, Tiger Woods diundang untuk memeriahkan sebuah turnamen. Untuk undangan seperti itu, Woods mendapat bayaran US$1 juta, sebagai kompensasi kehadiran atau appearance fee.
Pemecatan dirinya oleh Tiger Woods secara tiba-tiba, membuat dia sangat terpukul. Sekalipun Steve Williams juga telah berubah menjadi caddy terkaya di dunia, tapi hal kekayaan itu tidak membuatnya bahagia. Sebab bagi Steve, Tiger sudah seperti "belahan jiwanya" (soul mate). Berpisah dengan soulmate bukanlah persoalan mudah.
Segalanya berubah pada hari Senin kemarin. Bagi mereka bertiga yakni Tiger, Adam dan Steve. Tiger yang biasanya sangat akrab dengan wartawan, seusai pertandingan langsung membisu sekalipun dikejar para juru warta.
Sementara Adam yang tidak suka meledak-ledak, setelah memastikan jadi juara, dengan muka sumringah menjawab semua sambutan, pujian dan tentu saja meluapkan kegembiraannya setelah piala juara diterimanya dari panitia.
Steve sendiri yang selama menjadi caddy Tiger Woods tidak pernah mau bicara dengan pers, tak bisa mengelak ketika dicegat oleh wartawan. "Momen ini merupakan hal yang paling terindah dalam kehidupanku...", sebuah pernyataan spontan seolah menyindir bekas "boss"-nya Tiger Woods.
Selang sehari setelah kegagalan Tiger Woods, perusahaan jam tangan Swiss, Tag Heure, mengumumkan, bahwa perusahaan itu memutuskan untuk menghentikan semua kontrak bisnisnya dengan Tiger Woods. "Kami percaya Woods dapat mengatasi persoalan yang sedang dihadapinya", ujar jurubicara perusahaan jam tangan tersebut.
Belum ada reaksi dari Woods atas pemutusan kontrak dengan salah satu perusahaan ternama di dunia tersebut. Namun bukan mustahil, keputusan serupa bakal disusul oleh sponsor-sponsor lainnya.
Kabar tersebut jelas sangat memukul kejiwaan Tiger Woods. Sebab di tengah prestasinya yang terus memburuk, penghasilan terus menurun. Sang bekas isteri Elin Nordegren (31) yang mendapat pesangon sekitar Rp850 miliar, kini sudah berkencan dengan lelaki baru.
Yang mungkin lebih menyakitkan lagi, bekas baby sitter dari Swedia itu, dikencani Jamie Dingman, di rumah hasil pembagian harta gono-gini Tiger dan Elin yang harganya US$12 juta.
Kabarnya, Elin, bekas isteri sudah hamil. Sementara Jamie Dingman sebelum berpacaran dengan Elin, ia merupakan kekasih Rachel Uchite, hostes dari New York Club yang menjadi kekasih gelap Tiger Woods. Atas kejadian ini, maka yang bisa dikonklusikan adalah kehidupan pribadi Tiger Woods semakin terpuruk atau terus memburuk.
Inilah yang mungkin disebut bahwa sukses dan kegagalan itu cuma beda tipis atau kehidupan manusia selalu ada pasang surutnya. Kali ini, Sang Jawara berdarah Thailand-Amerika Serikat itu sedang berada di bawah. Sampai kapankah? [mdr]